2 Faktor Nilai TKA Siswa SMA-SMK Jeblok, Salah Satunya karena TikTok?
KOMPAS.com - Hasil nilai Tes Potensi Akademik (TKA) yang diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Pada jenjang SMA, nilai rata-rata untuk Bahasa Indonesia tercatat 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris hanya 26,71. Sementara itu, untuk jenjang SMK, nilai rata-rata TKA Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris. Nilai TKA maksimal sendiri 100,00 per mapel wajib. Sementara capaian nilai SMA tertinggi pada seluruh mata pelajaran wajib, diikuti oleh MA kemudian SMK. Pengecualian terjadi di mata pelajaran bahasa Inggris, capaian rerata Paket C lebih tinggi dibandingkan MA maupun SMK. Baca juga: 9 Provinsi dengan Nilai Matematika Tertinggi di TKA 2025 Prospek Ekonomi dan Perdagangan Global 2026 Artikel Kompas.id Walaupun TKA bukan untuk penentu kelulusan, namun hasilnya memicu respon banyak masyarakat. Apakah nilai TKA yang jeblok ini gara-gara soalnya terlau sulit atau ada faktor lain? 2 Faktor Nilai TKA Turun Prof Dr Tuti Budirahayu, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair) mengungkapkan beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya nilai TKA. 1. Anggapan TKA bukan penentu kelulusan Menurut Prof Tuti, banyak siswa yang menganggap bahwa TKA bukanlah ujian yang menentukan masa depan mereka. Berbeda dengan Ujian Nasional (UN) atau SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) yang seringkali dianggap sebagai penentu nasib. “Dua jenis ujian tersebut, dikenal sangat efektif membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik untuk menyaring siswa-siswa yang berprestasi. Bahkan saking menakutkannya jenis ujian tersebut, cara-cara curang ditempuh oleh siswa yang memang tidak memiliki moral dan etika baik untuk. Demi dapat lolos dari dua jenis ujian tersebut,” ujarnya, dilansir dari laman Unair, Senin (5/1/2026). 2. Distraksi digital Faktor kedua menurut Prof Tuti adalah pengaruh era digital yang sangat kuat terhadap perilaku belajar siswa masa kini. Banyak siswa yang terpapar oleh gaya hidup instan layaknya yang muncul di media sosial. Di mana mereka sering melihat orang-orang yang sukses dalam waktu singkat. Seolah-olah kesuksesan itu bisa diraih dengan mudah. “Siswa SMA saat ini telah mengalami distraksi digital melalui paparan gawai, baik dalam bentuk tayangan di media sosial, seperti Instagram dan TikTok atau game, yang melemahkan daya kritis, konsentrasi jangka panjang yang juga melemah, dan juga melemahkan ketekunan membaca serta berpikir analitis,” terang Dosen FISIP Unair itu. Baca juga: 2 Jalur Nasional Masuk PTN 2026 Ini Resmi Wajib Pakai TKA Selain faktor-faktor tersebut, Prof Tuti juga menyoroti masalah yang lebih mendalam terkait dengan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Menurutnya, TKA bisa dianggap sebagai cermin dari kualitas pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah tersebut. Jika kualitas pengajaran rendah, maka hasil ujian yang siswa peroleh juga tidak akan memuaskan. Hal ini bisa dilihat sebagai indikasi bahwa metode pembelajaran yang digunakan selama ini belum cukup efektif dalam membantu siswa memahami konsep secara mendalam. “Jika ini yang terjadi maka harus ada upaya reformasi pendidikan besar-besaran. Di mana metode dan orientasi pembelajaran harus ditata ulang. Tidak lagi siswa disuguhi materi belajar hafalan tetapi sudah harus menuju model pembelajaran yang menekankan penalaran, pemahaman konsep dan cara-cara berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS),” kata Prof Tuti. Lihat Foto Siswa mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMK Negeri 1 Ciamis, Jawa Barat, Senin (3/11/2025). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengganti Ujian Nasional dengan TKA yang terdiri dari tiga mata pelajaran wajib dan dua mata pelajaran pilihan sesuai jurusan perguruan tinggi atau arah karier siswa. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi) Solusi meningkatkan nilai TKA 2026 Ia mengatakan salah satu langkah yang bisa diambil adalah menyadarkan kembali siswa akan pentingnya makna belajar. Siswa perlu mendapatkan bimbingan agar dapat mengaitkan materi pelajaran dengan isu-isu aktual yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata. Termasuk tantangan yang mereka akan temui di dunia kerja. Prof Tuti juga menambahkan pentingnya literasi digital secara kritis. Agar siswa dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mereka, bukan justru terjebak dalam distraksi yang merugikan. Selanjutnya, reformasi pendidikan yang mendalam perlu dilakukan. “Menata ulang kualitas guru-guru sebagai SDM utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan atau anak didiknya. Serta meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan pendidikan antarwilayah atau daerah, antarsekolah negeri dan swasta, dan antarsekolah yang dikelola oleh kementerian yang berbeda,” imbuhnya. Prof Tuti menekankan pentingnya menguatkan sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah dalam memberikan pendampingan belajar pada siswa. Baca juga: SMA Taruna Nusantara di IKN Dibuka 2026, Gratis Biaya Sekolah Menurut dia, program-program mentoring dan konseling di sekolah perlu diperkuat untuk membantu siswa yang membutuhkan perhatian khusus, baik itu dalam bentuk pendampingan akademik maupun masalah psikologis. "Kerja sama antara semua pihak ini akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh, baik secara akademik maupun emosional,” pungkasnya.
